2/ JUNI /2026 | REDAKSI PARAMIDSN
SURABAYA, Paramidsn.com — Dalam lembaran sejarah modern, jarang ada kebijakan pemerintah yang memiliki dampak lingkungan dan kemanusiaan sedrastis "Kampanye Empat Hama" (Four Pests Campaign) yang diinisiasi oleh Mao Zedong di Tiongkok pada akhir 1950-an. Upaya yang dilandasi niat untuk memajukan sektor pertanian ini justru berubah menjadi bumerang yang memicu salah satu bencana kelaparan terbesar dalam sejarah umat manusia.
Ambisi di Balik Musnahnya Burung Gereja
Pada tahun 1958, sebagai bagian dari "Lompatan Jauh ke Depan" (Great Leap Forward), pemerintah Tiongkok menargetkan empat hama yang dianggap merugikan ekonomi: nyamuk, lalat, tikus, dan burung gereja. Burung gereja menjadi target utama karena dianggap sebagai "pencuri" biji-bijian yang memakan hasil panen petani.
Seluruh rakyat dikerahkan untuk membasmi burung-burung ini. Mereka menggunakan gong, genderang, dan teriakan untuk membuat burung gereja kelelahan di udara hingga jatuh ke tanah, atau langsung menghancurkan sarang dan telur mereka. Dalam waktu singkat, populasi burung gereja di Tiongkok hampir punah.
Rantai Makanan yang Terputus dan Bencana Kelaparan
Namun, pemerintah luput memperhitungkan keseimbangan ekosistem. Burung gereja ternyata bukan sekadar pemakan biji-bijian; mereka adalah predator alami bagi serangga seperti belalang dan ulat yang merusak tanaman padi. Dengan hilangnya predator utama, populasi belalang meledak tak terkendali. Kawanan belalang raksasa menyapu bersih lahan pertanian di seluruh Tiongkok. Tanpa perlindungan alamiah dari burung, panen gagal total, yang kemudian memicu kelaparan hebat (Great Chinese Famine) yang menelan puluhan juta nyawa. Pemerintah akhirnya menyadari kesalahan fatal tersebut dan pada tahun 1960, kampanye melawan burung gereja dihentikan. Bahkan, pemerintah terpaksa mengimpor burung dari luar negeri untuk memulihkan keseimbangan ekosistem yang sempat hancur. Peristiwa ini menjadi pelajaran pahit bagi dunia mengenai pentingnya memahami interaksi kompleks dalam ekosistem sebelum melakukan intervensi skala besar terhadap alam.
Klasifikasi dan Taksonomi Burung Gereja
Burung yang menjadi target utama dalam kampanye tersebut umumnya adalah burung gereja Eurasia (Eurasian Tree Sparrow). Berikut adalah klasifikasi dan taksonomi ilmiahnya:
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Passeriformes
Famili: Passeridae
Genus: Passer
Spesies: Passer montanus
Notes : Burung gereja jenis Passer montanus memiliki ciri khas berupa mahkota berwarna cokelat kemerahan serta bintik hitam pada pipi putihnya. Mereka merupakan burung sosial yang sangat adaptif terhadap lingkungan manusia, yang dulunya justru menjadi alasan mengapa mereka dianggap sebagai ancaman bagi lumbung pangan di era tersebut.
Pelajaran dari ekologis
Begitulah ambisi manusia yang selalu serakah dan menganggap beberapa Satwa di anggap hama atau menggangu kepentingannya namun yang terjadi malah bencana. Membasmi seluruh Burung Gereja mungkin berfikir bisa panen lebih besar dan dapat memenuhi kebutuhan manusia. Namun yang terjadi tangan manusia lah yang kotor ikut campur urusan alam yang mengakibatkan juga banyak nyawa manusia hilang juga karena bencana kelaparan juga di sebabkan oleh hilang nya 1 satwa dalam mata rantai. Pelajaran ini bisa di ambil agar urusan Alam jangan kita campuri atau kita musnahkan secara masif dan tidak terarah atau tanpa melihat kedepannya.
Penulis : Ali Setyaki
Editor : Adi Mikayasa
Foto by : Poster four pests campaign