Benarkah Penelitian terbaru Spinosaurus adalah ahli berburu di Rawa?

Benarkah Penelitian terbaru Spinosaurus adalah ahli berburu di Rawa?

Benarkah Penelitian terbaru Spinosaurus adalah ahli berburu di Rawa?

Palentologi (Primal)/ Pra Animal
Minggu, 20 September 2026
Dsn Mamalia
44 Views

20/SEPTEMBER/2026 | REDAKSI PARAMIDSN




 

Surabaya, PARAMIDSN.com — Selama bertahun-tahun, Spinosaurus menjadi salah satu dinosaurus paling kontroversial dalam paleontologi. Dengan moncong panjang menyerupai buaya, gigi berbentuk kerucut, kaki belakang yang relatif panjang, serta layar besar di punggungnya, predator raksasa ini telah memunculkan pertanyaan besar: apakah Spinosaurus benar-benar menghabiskan hidupnya di dalam air, atau justru merupakan pemburu darat yang gemar mencari ikan di tepian sungai?

Penelitian terbaru pada 2026 kembali mengubah gambaran tersebut. Penemuan spesies baru, Spinosaurus mirabilis, dari wilayah Sahara tengah di Niger memberikan bukti bahwa kelompok Spinosaurus kemungkinan sangat erat dengan lingkungan perairan dangkal, dataran banjir, dan habitat riparian sekitar 95 juta tahun lalu. Namun, menyebutnya sebagai “ahli berburu di rawa” perlu sedikit diperjelas: bukti terbaru lebih kuat menggambarkan Spinosaurus sebagai predator ikan perairan dangkal yang mengandalkan strategi penyergapan atau mengarungi air, bukan sebagai pemburu yang sepenuhnya hidup dan berenang di rawa.


 

Penemuan Mengubah Gambaran Spinosaurus

Pada Februari 2026, jurnal Science menerbitkan penelitian mengenai Spinosaurus mirabilis, spesies baru dari genus Spinosaurus. Fosilnya ditemukan di Jenguebi, Niger, dalam lingkungan purba yang dahulu merupakan wilayah berhutan dan berasosiasi dengan sistem perairan daratan. Spesies baru ini memiliki ciri sangat mencolok berupa jambul tulang berbentuk seperti pedang atau scimitar di bagian atas kepala. Jambul tersebut merupakan salah satu struktur kepala terbesar yang diketahui pada theropoda. Para peneliti menilai struktur ini kemungkinan lebih berkaitan dengan sinyal visual, pengenalan antarindividu, pasangan, atau kompetisi wilayah, bukan senjata untuk menyerang mangsa. Yang jauh lebih penting bagi perdebatan ekologi adalah lokasi penemuannya. Fosil S. mirabilis ditemukan jauh dari garis pantai purba. Temuan tersebut menunjukkan bahwa Spinosaurus tidak harus bergantung pada lingkungan laut atau pesisir. Lingkungan daratan berair dengan sungai dan habitat riparian ternyata juga dapat menjadi tempat hidupnya.


 

Predator yang Lebih Mirip Bangau Raksasa?

Para peneliti menggambarkan Spinosaurus mirabilis secara analogis sebagai semacam “hell heron”, atau “bangau neraka” — bukan karena bentuk tubuhnya benar-benar seperti bangau, melainkan karena cara berburu yang diperkirakan memanfaatkan perairan dangkal. Dengan tubuh sekitar 12 meter dan berat diperkirakan 5–7 ton, S. mirabilis dapat memasuki air dangkal untuk mengejar atau menyergap ikan besar. Kakinya yang relatif lebih panjang dibandingkan S. aegyptiacus juga mendukung gambaran sebagai predator yang mampu bergerak di lingkungan dangkal. Bayangkan sebuah sungai purba Afrika sekitar 95 juta tahun lalu.

Seekor Spinosaurus berdiri di tepian atau bagian dangkal sungai. Moncongnya yang panjang perlahan masuk ke air, sementara sebagian besar tubuhnya tetap berada di luar air. Ketika ikan mendekat, rahangnya bergerak cepat dan gigi-giginya yang berbentuk kerucut membantu menjebak mangsa licin tersebut.

Strategi seperti ini lebih mirip predator penyergap di air dangkal dibandingkan predator yang berenang mengejar ikan seperti singa laut.


 

“Jebakan Ikan” di Dalam Rahangnya

Salah satu fitur paling menarik pada Spinosaurus adalah susunan giginya.

Giginya berbentuk kerucut, tidak memiliki gerigi pemotong seperti banyak theropoda pemakan daging lainnya. Pada Spinosaurus, gigi atas dan bawah dapat saling berhadapan dan membentuk struktur yang membantu menusuk serta menahan tubuh ikan yang licin.

Karakter ini sangat sesuai dengan pola makan yang didominasi ikan. Pada S. mirabilis, penelitian 2026 juga menemukan sejumlah adaptasi tengkorak yang menunjukkan spesialisasi kuat terhadap mangsa akuatik.

Artinya, Spinosaurus mungkin tidak perlu menggigit dan merobek mangsa besar seperti tyrannosaurid. Senjatanya adalah moncong panjang dan sistem gigi yang berfungsi seperti perangkap ikan.


 

 Spinosaurus Benar-Benar Ahli di Rawa?

Jawabannya: sebagian benar, tetapi istilahnya perlu hati-hati.

Penelitian 2024 yang menggunakan analisis kuantitatif bentuk tengkorak menemukan bahwa spinosaurid, termasuk Spinosaurus, berada dekat secara morfologis dengan hewan akuatik dan burung pengarung seperti wader. Analisis tersebut juga menunjukkan bahwa bentuk tengkorak Spinosaurus sangat sesuai dengan strategi memperoleh makanan akuatik, terutama pola “stand-and-wait” atau menunggu dan menyergap mangsa.

Namun, penelitian lain masih memberikan interpretasi berbeda.

Studi berbasis kepadatan tulang pada 2022 menemukan bukti kuat mengenai adaptasi akuatik pada spinosaurid dan mengusulkan bahwa Spinosaurus bahkan melakukan pencarian makanan di bawah air.

Sebaliknya, penelitian biomekanika sebelumnya menyimpulkan bahwa Spinosaurus bukan perenang cepat atau predator pengejar bawah air yang sangat terspesialisasi. Model tersebut lebih mendukung gambaran predator semiakuatik yang berjalan dengan dua kaki dan menyergap ikan di tepi sungai maupun perairan dangkal.

Jadi, penelitian terbaru tidak serta-merta menutup perdebatan tersebut. Justru, S. mirabilis memperkuat satu bagian penting: Spinosaurus sangat erat dengan ekosistem perairan dangkal, tetapi belum ada konsensus bahwa seluruh hidupnya berlangsung di dalam air.


 

Sahara Dahulu Bukan Gurun

Temuan ini juga mengingatkan bahwa Sahara modern sangat berbeda dari Sahara pada zaman Kapur.

Sekitar 95 juta tahun lalu, wilayah yang sekarang berupa gurun luas tersebut memiliki sistem sungai, vegetasi, dan lingkungan basah. S. mirabilis hidup di habitat riparian bersama berbagai jenis dinosaurus lainnya.

Ironisnya, fosil predator yang dahulu hidup di kawasan basah tersebut sekarang ditemukan di salah satu wilayah paling kering di Bumi.

Inilah salah satu kekuatan paleontologi: gurun modern dapat menjadi arsip dari dunia yang pernah hijau dan penuh air.


 

Etimologi,Nilai Ekologis dan Paleontologis

Nama genus Spinosaurus berasal dari bahasa Latin spina, berarti “duri” atau “tulang belakang”, dan bahasa Yunani sauros, berarti “kadal”.

Nama spesies mirabilis berasal dari bahasa Latin yang berarti “menakjubkan” atau “luar biasa”, merujuk pada ciri tengkoraknya yang sangat mencolok, terutama jambul tulang berbentuk scimitar.

Spinosaurus memiliki arti penting dalam memahami bagaimana dinosaurus theropoda beradaptasi terhadap sumber makanan dari ekosistem perairan.

Keberadaannya menunjukkan bahwa theropoda tidak hanya mengisi peran sebagai predator darat. Kelompok spinosaurid mengalami perubahan anatomi yang memungkinkan mereka mengeksploitasi ikan dan sumber makanan akuatik, sehingga membuka relung ekologis yang berbeda dari predator theropoda lainnya. Temuan S. mirabilis juga memperluas gambaran mengenai habitat spinosaurid. Bukti dari Niger menunjukkan bahwa predator ini dapat hidup di lingkungan pedalaman yang berhubungan dengan sungai, bukan hanya kawasan pesisir.



 

Klasifikasi & Taksonomi

Kingdom: Animalia
 

Phylum: Chordata
 

Class: Reptilia
 

Clade: Dinosauria
 

Clade: Saurischia
 

Clade: Theropoda
 

Clade: Tetanurae
 

Family: Spinosauridae
 

Subfamily: Spinosaurinae
 

Genus: Spinosaurus
 

Species: Spinosaurus mirabilis

Selain Spinosaurus mirabilis, genus ini juga mencakup Spinosaurus aegyptiacus. Penelitian 2026 menempatkan S. mirabilis sebagai spesies baru yang memperkaya pemahaman mengenai evolusi dan ekologi spinosaurid di Afrika Utara.


 

Notes :  Jadi, benarkah Spinosaurus ahli berburu di rawa?

Bisa dikatakan demikian jika “rawa” dimaknai sebagai lingkungan perairan dangkal dan dataran basah, tetapi istilah yang lebih ilmiah adalah predator semiakuatik perairan dangkal atau predator ikan pengarung.

Penelitian terbaru justru memberikan gambaran yang semakin menarik: Spinosaurus kemungkinan bukan “monster laut” yang terus-menerus berenang mengejar mangsa, tetapi predator raksasa yang sangat teradaptasi untuk mengeksploitasi ekosistem sungai, danau, dataran banjir, serta perairan dangkal.

Dengan moncong panjang, gigi seperti perangkap ikan, tubuh raksasa, dan kemampuan mengarungi air dangkal, Spinosaurus mungkin merupakan salah satu contoh paling ekstrem tentang bagaimana dinosaurus predator mengambil alih dunia di antara daratan dan air.


 

Sumber utama: Sereno et al., Science (2026); Smart & Sakamoto, PeerJ (2024); Fabbri et al., Nature (2022); Hone & Holtz, Palaeontologia Electronica (2021).


 

Penulis: Ali Setyaki

Editor : Adi Mikayasa

Foto by : Warpath17 / Elreptiliano

Info Terkini

Dapatkan berita terbaru seputar dunia satwa, tips perawatan, dan informasi menarik lainnya.