2 Kali Dianggap Punah, Kelelawar Ini Ternyata Masih Bertahan di Pegunungan Papua

2 Kali Dianggap Punah, Kelelawar Ini Ternyata Masih Bertahan di Pegunungan Papua

2 Kali Dianggap Punah, Kelelawar Ini Ternyata Masih Bertahan di Pegunungan Papua

Mamalia
Minggu, 27 September 2026
Dsn Mamalia
44 Views

27/SEPTEMBER/2026 — 18.00 | Redaksi PARAMIDSN


 

SURABAYA, Paramidsn.com — Bagaimana jika seekor satwa pernah dianggap telah punah, kemudian ditemukan masih hidup, lalu kembali menghilang begitu lama hingga kembali dikhawatirkan punah?

Kisah tersebut terjadi pada Aproteles bulmerae, atau Bulmer's Fruit Bat, kelelawar buah endemik pegunungan Papua Nugini yang hingga kini masih tercatat sebagai spesies hidup. Kisahnya menjadi salah satu contoh menarik tentang betapa sulitnya memastikan kepunahan satwa yang hidup di habitat terpencil dan sulit dijangkau manusia.


 

Dari Fosil, Kemudian Dinyatakan Hilang

Kisah Aproteles bulmerae bermula dari penemuan material subfosil di dataran tinggi Papua Nugini. Spesies ini secara ilmiah dideskripsikan oleh J. I. Menzies pada 1977 berdasarkan material fosil dan subfosil dari wilayah Chimbu. Karena hanya diketahui dari sisa-sisa masa lalu, spesies tersebut sempat dianggap telah punah. Namun, cerita ternyata belum selesai. Pada pertengahan 1970-an, David Hyndman menemukan bukti bahwa kelelawar ini masih bertahan sebagai satwa hidup di kawasan Hindenburg Wall, Papua Nugini bagian barat. Bukti tersebut kemudian menjadi dasar bagi Hyndman dan Menzies untuk menerbitkan catatan pada 1980 dengan judul yang sangat tegas: “Aproteles bulmerae of New Guinea is Not Extinct.” Dengan demikian, kelelawar yang sebelumnya hanya dikenal dari masa lalu ternyata masih memiliki populasi hidup.


 

Ribuan Individu, Lalu Hampir Menghilang

Ironisnya, penemuan tersebut justru memperlihatkan betapa rapuhnya populasi Aproteles bulmerae. Masyarakat lokal pada saat itu mengetahui keberadaan koloni yang diperkirakan mencapai ribuan individu di sebuah gua yang kemudian dikenal sebagai Luplupwintem. Namun, sekitar 1975–1977, jumlah kelelawar di gua tersebut mengalami penurunan drastis setelah aktivitas perburuan. Ketika lokasi tersebut kembali diperiksa, hanya tersisa sekitar dua individu yang terlihat. Pada dekade 1980-an, keberadaan kelelawar tersebut kembali sangat sulit dibuktikan. Tidak adanya pengamatan dalam periode tersebut menyebabkan kekhawatiran bahwa Aproteles bulmerae mungkin telah mengalami kepunahan untuk kedua kalinya. Catatan sejarah mengenai spesies ini bahkan menyebutnya sebagai “twice thought extinct”—dua kali dianggap telah punah. Tetapi sekali lagi, kelelawar ini ternyata belum benar-benar hilang.


 

Muncul Kembali dari Gua Pegunungan

Penelitian yang diterbitkan oleh Timothy F. Flannery dan L. Seri pada 1993 memberikan kabar penting. Mereka melaporkan keberadaan koloni Aproteles bulmerae yang masih bertahan di sebuah doline atau gua terpencil di Papua Nugini bagian barat.

Dalam survei tersebut ditemukan sekitar 137 individu. Pada pengamatan berikutnya, jumlah yang tercatat mencapai sekitar 160 individu. Lokasi persembunyian tersebut berada di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 2.400 meter. Habitatnya berupa hutan pegunungan yang lembap, membuat lokasi koloni relatif sulit dijangkau dan kemungkinan turut membantu spesies ini bertahan dari tekanan manusia.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa tidak terlihat bukan berarti sudah punah.

Bagi satwa yang memiliki wilayah jelajah terbatas dan hidup di tempat terpencil, hilangnya pengamatan dalam beberapa tahun atau bahkan beberapa dekade dapat menciptakan kesimpulan yang keliru apabila tidak disertai survei yang memadai.


 

Kelelawar Buah  Status Sangat Terancam

Saat ini Aproteles bulmerae masih diakui sebagai spesies yang valid dan hidup. Mammal Diversity Database mencatatnya sebagai satu-satunya spesies dalam genus Aproteles, dengan distribusi di Papua Nugini dan status konservasi Critically Endangered (CR). Ancaman terhadap spesies ini berkaitan dengan populasinya yang sangat terbatas, habitat pegunungan yang spesifik, serta tekanan perburuan dan gangguan manusia. Keberadaannya juga menunjukkan bahwa penemuan kembali tidak otomatis berarti sebuah spesies telah aman. Justru sebaliknya, populasi yang sangat kecil dapat membuat satu koloni menjadi sangat penting bagi kelangsungan seluruh spesies.


 

Klasifikasi & Taksonomi

Kingdom: Animalia
 

Phylum: Chordata
 

Class: Mammalia
 

Order: Chiroptera
 

Suborder: Yinpterochiroptera
 

Family: Pteropodidae
 

Subfamily: Harpyionycterinae
 

Tribe: Dobsoniini
 

Genus: Aproteles
 

Species: Aproteles bulmerae Menzies, 1977

Aproteles bulmerae* merupakan spesies valid dan menjadi satu-satunya anggota genus Aproteles yang saat ini diakui.


 

Etimologi , Ekologis dan Konservasi

Nama genus Aproteles berasal dari bahasa Yunani dan berkaitan dengan makna “tidak lengkap pada bagian depan”, yang merujuk pada karakter gigi, khususnya tidak adanya gigi seri bawah. Sementara nama spesifik bulmerae diberikan untuk menghormati Susan Bulmer, seorang arkeolog yang melakukan penelitian terhadap situs tempat material fosil yang menjadi dasar pengenalan spesies ini ditemukan. Sebagai kelelawar buah, Aproteles bulmerae memiliki posisi penting dalam ekosistem hutan karena kelelawar pemakan buah dapat berperan dalam perpindahan biji dan regenerasi vegetasi. Namun, nilai ekologis spesies ini tidak hanya terletak pada perannya sebagai kelelawar buah. Keberadaannya juga menjadi indikator bahwa kawasan hutan pegunungan Papua Nugini masih menyimpan keanekaragaman hayati yang belum sepenuhnya diketahui.

Kisah Aproteles bulmerae memperlihatkan satu pelajaran penting dalam konservasi: status “tidak terlihat” tidak selalu sama dengan “punah”. Satwa dapat bertahan di tempat yang sulit dijangkau, sementara perubahan populasi yang drastis dapat membuat manusia kehilangan jejak keberadaannya selama bertahun-tahun.

Dari fosil, ditemukan hidup, kemudian kembali menghilang dari pengamatan, hingga akhirnya ditemukan lagi—Aproteles bulmerae seolah mengingatkan bahwa alam masih menyimpan banyak cerita yang belum selesai kita pahami.



 

Penulis : Ali setyaki

Editor : Agung monche

Foto by : oleh Tim Flannery

Info Terkini

Dapatkan berita terbaru seputar dunia satwa, tips perawatan, dan informasi menarik lainnya.