2 Class Aves Punah Dalam 1 Waktu yang sama "Elang Hast & Moa"

2 Class Aves Punah Dalam 1 Waktu yang sama "Elang Hast & Moa"

2 Class Aves Punah Dalam 1 Waktu yang sama "Elang Hast & Moa"

Palentologi (Primal)/ Pra Animal
Selasa, 16 Juni 2026
Dsn Mamalia
72 Views

15/Junin/2026 | REDAKSI PARAMIDSN



 

SURABAYA, Paramidsn.com —  ​Dunia sains baru saja menyorot kembalilsalah satu tragedi ekologi paling memilukan dalam sejarah modern. Melalui penelitian terbaru yang menganalisis data paleonto-ekologi, para ilmuwan menegaskan kembali betapa rapuhnya keseimbangan alam ketika dua predator dan herbivora puncak, yakni Elang Haast (Hieraaetus moorei) dan Burung Moa (Dinornithiformes), mengalami kepunahan di wilayah Selandia Baru dalam rentang waktu yang berhimpitan.


 

Kepunahan 2 Species Iconic

​Kepunahan kedua spesies ikonik ini bukan sekadar hilangnya populasi burung biasa, melainkan runtuhnya seluruh ekosistem unik yang telah terbentuk selama jutaan tahun. Sebagai burung pemangsa terbesar yang pernah tercatat, Elang Haast memiliki bentang sayap hingga 3 meter, menjadikannya penguasa langit yang mutlak. Di sisi lain, Moa adalah raksasa daratan yang tidak bisa terbang, menjadi "pemotong rumput" alami di hutan-hutan Selandia Baru.

​Hilangnya kedua spesies ini dalam waktu yang bersamaan menciptakan fenomena yang disebut oleh para ahli sebagai "efek domino kepunahan". Ketika Moa mulai musnah akibat perburuan manusia dan perubahan habitat, Elang Haast yang sangat bergantung pada Moa sebagai sumber mangsa utama praktis kehilangan sumber energi vital mereka. Dalam hitungan beberapa dekade, penguasa langit tersebut pun menyusul ke dalam jurang kepunahan. Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi dunia modern tentang bagaimana ketergantungan antarspesies dalam jaring makanan sangat menentukan kelangsungan hidup sebuah ekosistem.


 

Jejak Sejarah di Balik Nama: Etimologi Elang Haast dan Burung Moa

​Nama-nama ilmiah dan umum yang kita kenal hari ini bukan sekadar label, melainkan catatan sejarah yang mengabadikan penemu, karakteristik fisik, hingga kaitan budaya dari spesies tersebut. Berikut adalah asal-usul etimologi dari kedua spesies ikonik tersebut:

​1. Elang Haast (Hieraaetus moorei)

Nama Umum (Haast's Eagle): Nama ini diberikan untuk menghormati Sir Julius von Haast, seorang geolog dan naturalis ternama asal Jerman yang berdomisili di Selandia Baru. Beliau adalah orang yang pertama kali mengidentifikasi dan mendeskripsikan sisa-sisa tulang belulang raksasa ini pada pertengahan abad ke-19 setelah menemukannya di sebuah rawa di Glenmark, Canterbury.

Nama Ilmiah (Hieraaetus moorei):

Hieraaetus: Nama genus ini berasal dari gabungan dua kata Yunani Kuno, yaitu hierax yang berarti "elang" dan aetos yang berarti "rajawali". Secara harfiah, ini menegaskan identitasnya sebagai burung pemangsa yang kuat.

moorei: Nama penunjuk spesies ini didedikasikan untuk George Henry Moore, pemilik lahan tempat tulang-tulang pertama burung ini ditemukan. Haast memberikan nama ini sebagai bentuk penghargaan kepada Moore yang telah mengizinkan penggalian fosil di propertinya.

​2. Burung Moa (Dinornithiformes)

Nama Umum (Moa): Kata "Moa" berasal langsung dari bahasa Māori, penduduk asli Selandia Baru. Dalam bahasa Polinesia secara luas, moa memang berarti "unggas" atau "ayam". Ketika suku Māori tiba di Selandia Baru dan melihat burung raksasa yang tidak bisa terbang ini, mereka mengadopsi kata tersebut untuk mendefinisikan sosok burung besar yang mereka temui.

Nama Ilmiah (Dinornithiformes):

​Nama ordo ini berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu deinos yang berarti "menakutkan" atau "hebat/besar" (kata yang sama yang menjadi akar kata Dinosauria), dan ornis yang berarti "burung".

​Dengan demikian, secara taksonomi, Moa diartikan sebagai "burung-burung yang menakutkan" atau "burung-burung raksasa". Penamaan ini sangat tepat menggambarkan postur tubuh mereka yang luar biasa tinggi—bahkan beberapa spesies Moa betina bisa mencapai tinggi hingga 3,6 meter—yang mungkin terasa mengintimidasi bagi para pemukim awal di kepulauan tersebut.

​Dengan memahami asal-usul nama ini, kita diingatkan bahwa sejarah alam sering kali bersinggungan dengan sejarah manusia, baik melalui dedikasi ilmuwan maupun kearifan lokal penduduk asli yang telah hidup berdampingan dengan satwa tersebut selama berabad-abad.



 

​Klasifikasi dan Taksonomi

1. Elang Haast (Haast's Eagle)

Kerajaan (Kingdom): Animalia

Filum (Phylum): Chordata

Kelas (Class): Aves

Ordo (Order): Accipitriformes

Famili (Family): Accipitridae

Genus (Genus): Hieraaetus

Spesies (Species): Hieraaetus moorei

2. Burung Moa (Moa)

(Kingdom): Animalia

(Phylum): Chordata

(Class): Aves

Ordo (): Dinornithiformes

(Family): Termasuk dalam beberapa famili seperti Dinornithidae, Emeidae, dan Megalapterygidae

(Genus): Mencakup sembilan spesies dalam enam genus (misalnya Dinornis, Emeus, Megalapteryx)

(Species): Spesies Moa sangat beragam, dengan Dinornis robustus dan Dinornis novaezelandiae sebagai contoh yang paling dikenal.

Penulis: Mas Tahzain

Editor: Ali Setyaki

Foto by : Collected uc cc

Info Terkini

Dapatkan berita terbaru seputar dunia satwa, tips perawatan, dan informasi menarik lainnya.