Di sangka kera Putih mini ternyata Tarsius Genetik unik tertangkap kamera

Di sangka kera Putih mini ternyata Tarsius Genetik unik  tertangkap kamera

Di sangka kera Putih mini ternyata Tarsius Genetik unik tertangkap kamera

Mamalia
Sabtu, 31 Januari 2026
Dsn Mamalia
92 Views

29/JANUARI/2026-22.00| Redaksi PARAMIDSN


 

Surabaya,Paramidsn.com- Seekor Tarsius yang mengidap leucistic ditemukan warga di Desa Lemoh Timur, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, pada Jumat (5/2/2021). Tak seperti Tarsius pada umumnya berwarna coklat kemerahan, satwa ini didominasi rambut dengan warna putih. Tarsius merupakan spesies primata nokturnal (aktif di malam hari) berukuran mungil, dengan tubuh yang umumnya didominasi warna cokelat kemerahan. Namun seorang warga desa Lemoh Timur, Kabupaten Minahasa, menemukan Tarsius dengan tubuh yang didominasi rambut berwarna putih. Kenapa itu bisa terjadi?


 

Kondisi Leucistik Tarsius jarang ada

Sejumlah pakar mengaku baru pertama kali menyaksikan kondisi leucistic pada Tarsius. Sehingga mereka menilai, penting melakukan kajian lebih lanjut pada aspek genetik, perilaku serta ekologi Tarsius

Tarsius leucistic yang ditemukan merupakan jenis Krabuku tangkasi (Tarsius spectrumgurskyae). Umurnya diperkirakan antara bayi dan remaja, atau sekitar 6 bulan. Satwa ini dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.106 tahun 2 di sangka kera putih mini. Karena kalau mata normal, sigap. Dia punya iris mata yang tidak normal. Albino belum tentu bisa melihat dengan jelas.


 

Albino Tidak sama dengan Leucistik

Walau merupakan kelainan genetik akibat mutasi gen yang mempengaruhi warna rambut, dan memiliki sejumlah kemiripan, namun leucistic dinilai berbeda dengan albino. Kondisi leucistic dipercaya tidak mengubah warna serta respon mata terhadap cahaya. Dominasi warna putih pada satwa yang mengidap leucistic dipengaruhi oleh induk yang gennya bersifat resesif. Kemudian, variasi atau gradasinya  pada pewarisan warna rambut dari turunan individu ke individu selanjutnya. Meski demikian, leucistic dinilai memiliki perbedaan dengan albino. cara membedakannya yang paling mudah adalah warna mata. Pada leucistic mata tetap memiliki warna, sedangkan albino mempengaruhi warna mata.


 

  

Leucistik Belum pernah terjadi Pada Tarsius 

fenomena leucistic pada Tarsius dan menduga peristiwa di Desa Lemoh Timur sebagai temuan yang pertama kali diberitakan. Sehingga, penelitian lebih lanjut tentang genetik, perilaku serta ekologi Tarsius leucistic menjadi menarik untuk dilakukan. Di sisi lain, ada juga individu bayi primata yang berwarna berbeda, namun menjadi ciri pengenal individu muda di kelompoknya dan secara turun temurun beradaptasi dengan kondisi perbedaan itu. Warna ini (dominan putih) terlalu mencolok di malam hari, sehingga kurang memberikan perlindungan terhadap predator. Oleh karena itu, frenkuensi menunculnya leucistic maupun albino dalam populasi Tarsius sangat kecil.



 

Etimologi Tarsius

Tarsius berasal dari kata Prancis tarse atau Latin ilmiah tarsus, yang berarti "pergelangan kaki" atau "tulang tarsal". Nama ini diberikan karena tarsius memiliki tulang tarsal yang sangat memanjang, memungkinkan mereka melompat jauh dari satu dahan ke dahan lainnya.

spectrumgurskyae merupakan gabungan dari nama spectrum (mengacu pada sejarah taksonomi kelompok tarsius Sulawesi yang dahulu dikaitkan dengan Tarsius spectrum) dan akhiran -gurskyae, yang diberikan untuk menghormati seorang tokoh bermarga Gursky (ahli primata yang banyak meneliti tarsius). Akhiran -ae menunjukkan bahwa nama tersebut didedikasikan kepada seorang perempuan sesuai kaidah tata nama zoologi.


 

Klasifikasi & Taksonomi

Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Class: Mammalia

Order: Primates

Suborder: Haplorhini

Infraorder: Tarsiiformes

Family: Tarsiidae

Genus: Tarsius

Species: Tarsius spectrumgurskyae Shekelle, Groves, Maryanto, Mittermeier, Salim & Springer, 2017

Notes :Tarsius spectrumgurskyae merupakan salah satu spesies tarsius endemik Sulawesi yang diakui setelah revisi taksonomi besar pada tahun 2017. Sebelumnya, populasi ini tergabung dalam konsep luas Tarsius spectrum, tetapi penelitian yang menggabungkan morfologi, vokalisasi, dan analisis genetik menunjukkan bahwa populasi tersebut merupakan spesies yang berbeda. Spesies ini termasuk kelompok tarsius Sulawesi yang aktif pada malam hari (nokturnal) dan dikenal memiliki panggilan duet khas sebagai penanda wilayah serta komunikasi antar pasangan.


 

Penulis: Ali Maruf 

Editor : Aji Jipang 

Foto By:: BKSDA Sulut

Info Terkini

Dapatkan berita terbaru seputar dunia satwa, tips perawatan, dan informasi menarik lainnya.