29/JANUARI/2026-22.00| Redaksi PARAMIDSN
Surabaya,Paramidsn.com- Seekor Tarsius yang mengidap leucistic ditemukan warga di Desa Lemoh Timur, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, pada Jumat (5/2/2021). Tak seperti Tarsius pada umumnya berwarna coklat kemerahan, satwa ini didominasi rambut dengan warna putih. Tarsius merupakan spesies primata nokturnal (aktif di malam hari) berukuran mungil, dengan tubuh yang umumnya didominasi warna cokelat kemerahan. Namun seorang warga desa Lemoh Timur, Kabupaten Minahasa, menemukan Tarsius dengan tubuh yang didominasi rambut berwarna putih. Kenapa itu bisa terjadi?
Kondisi Leucistik Tarsius jarang ada
Sejumlah pakar mengaku baru pertama kali menyaksikan kondisi leucistic pada Tarsius. Sehingga mereka menilai, penting melakukan kajian lebih lanjut pada aspek genetik, perilaku serta ekologi Tarsius
Tarsius leucistic yang ditemukan merupakan jenis Krabuku tangkasi (Tarsius spectrumgurskyae). Umurnya diperkirakan antara bayi dan remaja, atau sekitar 6 bulan. Satwa ini dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.106 tahun 2 di sangka kera putih mini. Karena kalau mata normal, sigap. Dia punya iris mata yang tidak normal. Albino belum tentu bisa melihat dengan jelas.
Albino Tidak sama dengan Leucistik
Walau merupakan kelainan genetik akibat mutasi gen yang mempengaruhi warna rambut, dan memiliki sejumlah kemiripan, namun leucistic dinilai berbeda dengan albino. Kondisi leucistic dipercaya tidak mengubah warna serta respon mata terhadap cahaya. Dominasi warna putih pada satwa yang mengidap leucistic dipengaruhi oleh induk yang gennya bersifat resesif. Kemudian, variasi atau gradasinya pada pewarisan warna rambut dari turunan individu ke individu selanjutnya. Meski demikian, leucistic dinilai memiliki perbedaan dengan albino. cara membedakannya yang paling mudah adalah warna mata. Pada leucistic mata tetap memiliki warna, sedangkan albino mempengaruhi warna mata.
Leucistik Belum pernah terjadi Pada Tarsius
fenomena leucistic pada Tarsius dan menduga peristiwa di Desa Lemoh Timur sebagai temuan yang pertama kali diberitakan. Sehingga, penelitian lebih lanjut tentang genetik, perilaku serta ekologi Tarsius leucistic menjadi menarik untuk dilakukan. Di sisi lain, ada juga individu bayi primata yang berwarna berbeda, namun menjadi ciri pengenal individu muda di kelompoknya dan secara turun temurun beradaptasi dengan kondisi perbedaan itu. Warna ini (dominan putih) terlalu mencolok di malam hari, sehingga kurang memberikan perlindungan terhadap predator. Oleh karena itu, frenkuensi menunculnya leucistic maupun albino dalam populasi Tarsius sangat kecil.
Etimologi Tarsius
Tarsius berasal dari kata Prancis tarse atau Latin ilmiah tarsus, yang berarti "pergelangan kaki" atau "tulang tarsal". Nama ini diberikan karena tarsius memiliki tulang tarsal yang sangat memanjang, memungkinkan mereka melompat jauh dari satu dahan ke dahan lainnya.
spectrumgurskyae merupakan gabungan dari nama spectrum (mengacu pada sejarah taksonomi kelompok tarsius Sulawesi yang dahulu dikaitkan dengan Tarsius spectrum) dan akhiran -gurskyae, yang diberikan untuk menghormati seorang tokoh bermarga Gursky (ahli primata yang banyak meneliti tarsius). Akhiran -ae menunjukkan bahwa nama tersebut didedikasikan kepada seorang perempuan sesuai kaidah tata nama zoologi.
Klasifikasi & Taksonomi
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Mammalia
Order: Primates
Suborder: Haplorhini
Infraorder: Tarsiiformes
Family: Tarsiidae
Genus: Tarsius
Species: Tarsius spectrumgurskyae Shekelle, Groves, Maryanto, Mittermeier, Salim & Springer, 2017
Notes :Tarsius spectrumgurskyae merupakan salah satu spesies tarsius endemik Sulawesi yang diakui setelah revisi taksonomi besar pada tahun 2017. Sebelumnya, populasi ini tergabung dalam konsep luas Tarsius spectrum, tetapi penelitian yang menggabungkan morfologi, vokalisasi, dan analisis genetik menunjukkan bahwa populasi tersebut merupakan spesies yang berbeda. Spesies ini termasuk kelompok tarsius Sulawesi yang aktif pada malam hari (nokturnal) dan dikenal memiliki panggilan duet khas sebagai penanda wilayah serta komunikasi antar pasangan.
Penulis: Ali Maruf
Editor : Aji Jipang
Foto By:: BKSDA Sulut